Tuesday, October 3, 2023

Apartheid, Sejarah Kelam Kehidupan Masa Lalu Afrika Selatan

Wilayah Afrika Selatan menjadi pintu masuk penguasaan bangsa-bangsa Eropa atas sebagian wilayah Asia. Sejarah penjelajahan samudra yang dilakukan Bartholomeus Diaz pada tahun 1492 menjadi pembukanya.

Sejak penemuan rute tersebut, maka berbagai bangsa mulai melakukan eksplorasi terhadap Asia dan juga Afrika. Dimulai dari para imperialis kuno, Portugis dan Spanyol pada abad ke-15, hingga Inggris dan Perancis pada abad ke-18.

Bagi Portugis, Afrika Selatan tidak terlalu menarik perhatian. Pendaratan Bartholomeus Diaz ke Tanjung Harapan, hanya menempatkannya sebagai tempat transit semata. Bangsa yang melakukan pendudukan atas wilayah ini justru Belanda.

Saat itu Jan Anthony van Riebeeck (1618-1677) melakukan pendaratan di Afrika Selatan. Pendaratan ini diikuti dengan langkah menetap di beberapa wilayahnya. Sejak itulah proses kolonialisasi terjadi.

Bangsa Belanda yang selanjutnya menamakan diri Bangsa Boer ini, mulai melakukan berbagai tindakan pembatasan terhadap penduduk asli. Mereka yang hanya bangsa pendatang, melakukan praktek awal apharteid berupa pemisahan hak dan kewajiban didasarkan warna kulit. Bangsa kulit putih yang merupakan minoritas, justru menjadi penguasa.

Kedatangan Bangsa Inggris

Situasi Afrika Selatan berubah menjadi ruwet saat Inggris menjejakkan kakinya di wilayah tersebut. Inggris saat itu tengah mewujudkan impiannya melebarkan wilayah kekuasaan dari Mesir ke Cape Town (Afrika Selatan).

Kedatangan bangsa Inggris mengusik bangsa Boer (Belanda) yang telah terlebih dahulu berkuasa. Sehingga tak terhindarkan terjadi perang antara keduanya yang disebut Perang Boer (1899-1902).

Peperangan dimenangkan oleh bangsa Inggris. Dan sejak saat itu, bangsa Inggris  berkuasa atas wilayah Afrika Selatan. Selanjutnya pada tahun 1910, Inggris membentuk Uni Afrika Selatan. Sejak itu, berdatanganlah orang-orang Inggris ke wilayah Afrika Sekatan.

 

Praktek Apartheid

Apartheid secara sederhana diartikan dengan pemisahan. Praktek di Afrika Selatan ini didasarkan pada warna kulit mereka berkaitan dengan hak dan kewajiban. Bangsa kulit putih yang menjadi minoritas, memegang kendali segala aspek kehidupan di Afrika Selatan.

Praktek yang berlaku adalah pembatasan terhadap akses orang-orang kulit hitam untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Praktek ini dimulai sejak bangsa Belanda berkuasa.

Saat bangas Inggris datang, praktek ini tetap dijalankan. Apalagi Partai Nasional milik orang kulit putih memenangkan pemilihan umum pada tahun 1948. Sejak itu apartheid menjadi kebijakan resmi pemerintah.

Dalam kehidupan masyarakat, pemerintah membagi menjadi 4 kelompok:

  1.           Kelompok kulit putih/ keturunan Eropa
  2.           Suku bangsa Bantu (salah satu suku di Afrika Selatan)
  3.           Bangsa Asia (India dan Pakistan)
  4.           Kulit berwarna (Melayu Cape)

Reaksi terhadap Praktek Apartheid

Penerapan system apartheid di Afrika Selatan menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Bahkan PBB pun melakukan berbagai upaya untuk menghapus praktek ini. Namun tidak pernah berhasil.

Dari Afrika Selatan perlawanan dilakukan oleh Nelson Mandela dengan partai African National Congress (ANC). Berbagai aksi yang dilakukan ANC akhirnya membawa Nelson Mandela masuk ke dalam panjara pada tahun 1962.



Nelson Mandela baru dibebaskan pada tahun 11 Februari 1990 pada masa pemerintahan presiden Frederick Willem de Klerk.

Pembebasan ini ternyata menjadi babak baru sejarah apartheid di Afrika Selatan. Sebab pemerintah Afrika Selatan membuka perundingan dengan ANC. Pada puncaknya presiden de Klerk pada 7 Juni 1990 menghapus Undang Undang Darurat Negara.

Selanjutnya pada 21 Februari 1991, presiden de Klerk di depan sidan parlemen mengumumkan penghapusan system apartheid di Afrika Selatan. Langkah ini diikuti dengan penghapusan 3 undang-undang apartheid:

  1. Land Act, undang-undang yang melarang orang kulit hitam mempunyai tanah di luar wilayah yang ditentukan,
  2. Group Areas Act, undang-undang yang mengatur pemisahan tempat tinggal orang kulit putih, hitam, dan lain-lain,
  3. Population Registration Act, undang-undang yang mewajibkan semua orang kulit hitam mendaftarkan diri menurut kelompok suku masing-masing

Langkah lebih lanjut de Klerk adalah melakukan pemilu multirasial pertama kali, pada tahun 1994. Dalam pemilu yang berlangsung, partai ANC pimpian Nelson Mandela mencapai kemenangan. Selanjutnya Nelson Mandela terpilih juga menjadi Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. 

No comments:

Post a Comment

Ini Urusan Rasa, Enggak Ada Nilainya

  Duel seru timnas Indonesia vs Qatar di Piala Asia U-23 2024 (sumber: pssi.org) Dalam sebuah obrolan ringan saya sampaikan kalau sedang sed...