Tuesday, September 12, 2023

Haruskah Seorang Penulis Membentuk Personal Branding dalam Karir Kepenulisannya? (Bagian 1)

 


Dalam kehidupan saat ini, personal branding  menjadi keharusan bagi setiap orang. Demikian pula bagi seorang penulis, terutama bagi penulis pemula.

Personal branding sendiri adalah persepsi seseorang yang kamu bentuk terhadap dirimu dan apa yang bisa kamu tawarkan secara profesional saat ini serta di masa depan. Definis ini disampaikan oleh Susan Gunelis seorang presiden dan CEO perusahaan marketing communication.

Namun secara sederhana personal branding dapat diartikan dengan cara seseorang mempromosikan diri terhadap orang lain. Terutama berkaitan dengan kemampuan atau kompetensi yang dimilikinya.

Bagi seorang penulis, kompetensi yang diajukan tentu saja kemampuannya dalam menulis. Personal branding dalam dunia ini nantinya akan menjadi pintu gerbang seorang penulis untuk melangkah lebih jauh.

Dalam bahasa Jawa dikenal ungkapan jeneng (nama) dulu, baru jenang (jenang). Artinya bagi siapa pun jika sudah mempunyai ’nama’, maka jenang yang dianalogikan dengan uang akan datang dengan sendirinya.

Bagi seorang penulis tahapan adalah di mana saat tulisan kita dicari atau dibutuhkan orang. Jika sebelumnya seorang penulis susah payah mencari orang agar mau membaca tulisannya, kini tidak lagi.

Situasi semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja, butuh waktu yang panjang. Karena semua ini harus melalui proses tertentu.

Lalu untuk membentuk personal branding tersebut, ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

Pertama, kenali potensi diri. Langkah ini sangat penting karena akan menentukan langkah seorang penulis selanjutnya. Setiap penulis, sejak awal pasti telah menyadari dia akan berjalan di jalur jenis tulisan fiksi atau non fiksi.

Hal ini jangan diremehkan. Sebab sangat jarang penulis yang fasih di dua jenis tulisan ini. Sebab secara apa pun, terdapat perbedaan antara keduanya. Tulisan fiksi begitu luwes, penggunaan bahasanya tidak banyak aturan baku, dan seorang penulis harus mempunyai daya fantasi yang tinggi.

Sebaliknya tulisan non fiksi apalagi ilmiah, dipastikan banyak aturan yang mengikat. Sehingga bahasa yang dipergunakan pun terkesan kaku.  Data-data yang dibuat pun harus dapat dipertanggungjawabkan.

Namun ketika seseorang menulis jalur non fiksi, termasuk menulis artikel, ternyata ada juga yang harus diperhatikan. Seorang penulis biasanya mempunyai passion pada rubrik-rubrik tertentu. Mungkin dia fasih di rubrik olah raga, parenting, lifastyle, masakan, dan lain-lain.

Dengan mengenali potensi yang ada pada dirinya, dapat dipastikan penulis akan nyaman saat menulis. Muaranya tulisan yang dihasilkan pun akan enak dinikmati pembacanya.

Bersambung!

No comments:

Post a Comment

Ini Urusan Rasa, Enggak Ada Nilainya

  Duel seru timnas Indonesia vs Qatar di Piala Asia U-23 2024 (sumber: pssi.org) Dalam sebuah obrolan ringan saya sampaikan kalau sedang sed...