Thursday, September 21, 2023

Cara Pemberdayaan Santri ala Maz Uztaz



Ngobrol dengan Maz Uztaz tetangga saya, selalu melahirkan berbagai pencerahan yang luar biasa. Banyak hal-hal yang mengejutkan muncul dari omongannya. Dan kadang-kadang membuat saya geleng-geleng kepala dengan terobosannya.

Kali ini Maz Uztaz cerita tentang 2 santrinya yang sedang bekerja di kebun. Kebun itu pas di depan rumah saya. Dan kebetulan saya sedang libur, maka ada kesempatan ngobrol.

Diceritakan 2 santri tersebut sudah ditinggal ayahnya. Otomatis kehidupan mereka bergantung dari ibu masing-masing. Dan setiap pagi dan sore, mereka mengaji di pondok Maz Uztaz.

Singkat cerita, Maz Uztaz menawari kedua santri tersebut untuk membantu mengurus kebun. Dijanjikan bahwa masing-masing akan mendapatkan upah 200 ribu setiap minggu. Kerjanya pun hanya pagi hingga jam satu siang. Selebihnya mereka harus mengaji di pondok.

Kedua santri itu menyatakan setuju saat tawaran itu disampaikan. Namun sebelum mereka membuat akad, Maz Uztaz menambahkan satu syarat. Upah yang akan mereka terima hanya diberikan separoh saja. Sisanya akan disimpan Maz Uztaz.

Semula mereka keberatan. Namun setelah diberikan pengertian bahwa nafkah mereka masih tergantung pada ibunya, mereka setuju. Selain itu dengan dipegang Maz Uztaz, mereka akan lebih hemat dalam memanfaatkan upah tersebut.

Setahun kemudian, keduanya dipanggil ke rumah Maz Uztaz. Disampaikan pada mereka bahwa tabungan masing-masing sudah mencapai 4,8 juta rupiah.

Mendengar jumlah tersebut, keduanya terkejut. Tidak terbayang sama sekali akan mempunyai tabungan sebesar itu. Sementara itu untuk kebutuhan sehari-hari, uang yang mereka terima setiap minggu cukup.

Setelah disampaikan, Maz Uztaz mengusulkan untuk dibelikan sepeda. Sebab selama ini mereka harus berjalan kaki jika berangkat ke pondok maupun kebun. Dengan sepeda maka akan lebih cepat dan tidak capek.

Harga sepeda saat itu 1,5 juta. Jadi jika dibelikan masih ada tabungan 3,3 juta tiap orang. Mendengar penjelasan itu, kedua santri tersebut menganggukkan kepala tanda setuju. Terbayang di benak mereka punya sepeda baru, tabungan dan uang jajan tidak terganggu.

Memasuki tahun kedua, Maz Uztaz memanggil keduanya lagi. Kali ini disampaikan bahwa tabungannya telah bertambah menjadii 8,1 juta. Lagi-lagi kedua santri tersebut terkejut. Uang sebanyak itu tidak pernah terbayang dalam benak mereka.

Kali ini Maz Uztaz menawari mereka untuk membeli sepeda motor second. Menurut perhitungannya uang sebanyak itu cukup untuk membelinya. Dengan sepeda motor tersebut, mereka dapat melakukan berbagai aktivitas lebih banyak.

Ketika tahun ketiga selesai, Maz Uztaz kembali memanggil ketiganya. Tabungan mereka kali ini hanya 4,8 juta saja. Tapi, kali ini yang ditawarkan adalah kemungkinan untuk membeli sepeda motor baru.

Cara yang dipergunakan adalah menjual sepeda motor yang lama, kemudian ditambah dengan uang tabungan yang ada. Sehingga menurut hitungan Maz Uztaz akan ada dana sekitar 12 juta. Dijanjikan Maz Uztaz kekurangannya akan dipinjami dengan catatan dipotong dari tabungan dan yang separuh orang tua mereka diminat ikut mengangsur.

Menanggapi tawaran ini, ternyata keduanya berbeda pendapat. Santri yang satu tetap ingin membeli yang baru. Sedangkan santri yang lain memilih meminta uang tersebut.

Ketika ditanya Maz Uztaz tentang penggunaan uang itu, jawaban si santri membuat Maz Uztaz terharu. Uang tersebut akan digunakan untuk mengadakan upacara selamatan untuk bapaknya yang telah meninggal.

Hampir satu setengah jam saya ngobrol dengan Maz Uztaz. Di ujung obrolan, tidak ada kata yang sempat terucap. Jujur saya respek dengan apa yang telah dilakukan. Ternyata dakwah lewat kehidupan justru lebih mengena dibandingkan ceramah yang berbuih-buih.

 

Lembah Tidar, 21 September 2023 

No comments:

Post a Comment

Ini Urusan Rasa, Enggak Ada Nilainya

  Duel seru timnas Indonesia vs Qatar di Piala Asia U-23 2024 (sumber: pssi.org) Dalam sebuah obrolan ringan saya sampaikan kalau sedang sed...