Sunday, June 18, 2023

Kakak Pembina


 

Suasana lapangan sekolah malam itu sudah sepi. Beberapa calon bantara yang kan dibaiat sudah masuk ke tenda masing-masing. Direncanakan malam ini mereka akan mengikuti kegiatan jurit malam, kegiatan yang paling menyeramkan bagi para calon bantara tersebut. Sebelumnya sebagian dari kakak pembina dan para bantara telah memberikan beberapa instruksi kegiatan.

 

Pak Wahyu sendiri sebagai Ka Gudep pun nampak berada di tenda pembina. Didampingi beberapa pembina, mereka menikmati kopi dan pisang goreng sambil ngobrol. Sesekali tawa mereka terdengar hingga ke luar tenda.

“Permisi, Pak.” Tetiba terdengar suara dari luar tenda.

“Masuk!” perintah salah seorang pembina.

Dari balik tenda masuklah Fauzan dan salah seorang bantara. Keduanya merupakan bantara yang bertugas untuk mempersiapkan kegiatan malam ini.

“Pak, izin menyampaikan. Malam ini kami akan memasang beberapa tanda untuk acara malam nanti.”

“Kalian akan pasang di mana?” tanya Pak Wahyu.

“Di kuburan pinggir desa, Pak.”

“O, yang biasanya itu.”

“Benar, Pak,” jawab Fauzan. “Dan mohon maaf, kami ingin mengajak Kak Wahyu untuk mendampingi,” pinta Fauzan.

“Harus saya?” tanya Pak Wahyu.

“Ya, Pak. Bapak kan Ka Gudep kami,” bujuk Fauzan.

Pak Wahyu menengok pada pembina lain.

“Ya, udah jalan aja, Pak,” kata Pak Arif. “Apa jangan-jangan takut,” godanya.

“Takut? Mosok Ka Gudep takut,” tanggap Pak Wahyu. “Oke, jam berapa nanti?” tanya Pak Wahyu pada Fauzan.

“Jam 11, Pak.”

“Ok.”

Fauzan dan temannya pun kembali ke tenda bantara.

“Ada-ada saja, Fauzan itu,” kata Pak Wahyu pelan.

“Kalau Bapak takut, biar saya saja, Pak,” sahut Pak Mirza, pembina yang paling muda.

“Takut? Sorry.” Jawab Pak Wahyu sambil menjentikkan jemarinya.

 

******

Sekitar jam 11 malam, Pak Wahyu dan 3 orang bantara meninggalkan perkemahan. Tujuan mereka ke kuburan di pinggir desa untuk memasang tanda-tanda yang akan diambil oleh para calon bantara.

“Pak, Bapak tunggu di sini saja, ya!” kata Candra, salah seorang bantara.

“Memang kalian mau ke mana?” tanya Pak Wahyu sambil melihat sekeliling. Saat itu mereka sudah berada di tengah-tengah kuburan. Suasana malam sangat sepi, hanya suara serangga malam yang terdengar di sana.

“Kami harus turun di tempat yang agak bawah.”

“Jadi saya nunggu kalian di sini?”

“Iya, Pak. Di dekat rumah-rumahan ini.”

Pak Wahyu pun menengok ke rumah-rumahan tempat menyimpan keranda jenazah. Tanpa disadari berdebar-debar dadanya. Sebenarnya Pak Wahyu kategori penakut, namun karena rasa gengsinya dia beranikan diri untuk menemani anak-anak.

“Enggak papa kan, Pak.” Suara Fauzan mengejutkan Pak Wahyu.

“Ya, enggak apa-apa. Biasa. Mosok Ka Gudep harus takut,” jawab Pak Wahyu berusaha setenang mungkin.

 

******

Satu jam kemudian Fauzan dan teman-temannya tiba lagi di tempat Pak Wahyu menunggu. Diam-diam Pak Wahyu menarik nafas lega. Dia pura-pura berpaling untuk menyembunyikan kelegaannya.

“Enggak ada apa-apa kan, Pak?” tanya Candra.

“Aman.”

“Benar, Pak?” Fauzan menegaskan lagi.

“Ya, memang aman. Lagi pula tadi Candra kan sempat ke sini memberi saya sebotol air mineral ini, kan?”

Mendengar jawaban Pak Herman, ketiganya saling pandang. Mulut mereka ternganga.

“Bapak mendapat sebotol air mineral?” tanya Fauzan.

“Nih!” Pak Wahyu menunjukkan botol mineral di tangannya.

“Maaf, Pak. Padahal selama ini kami tidak berpencar. Kami memasang tanda bersama-sama di bawah sana,” jawab Candra gemetar.

“Jadi….” Pak Wahyu tidak bisa meneruskan kalimatnya. Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan tidak ingat apa-apa lagi.

 

Lembah Tidar, 15 September 2021

1 comment:

Ini Urusan Rasa, Enggak Ada Nilainya

  Duel seru timnas Indonesia vs Qatar di Piala Asia U-23 2024 (sumber: pssi.org) Dalam sebuah obrolan ringan saya sampaikan kalau sedang sed...