Wednesday, June 21, 2023

Anda Masih Guru Kuno Kalau Beranggapan Nilai di Rapor adalah Segalanya

 

Suasana Gelar Karya SMA Negeri 5 Magelang dengan Tari Wanara (dokumen pribadi)

Pernah mendengar seorang guru yang marah sejadi-jadinya saat seorang siswa mendapat nilai jelek di pelajarannya. Padahal siswa tersebut telah mengikuti remidi untuk kedua kalinya. Namun hasil yang didapatkan, tetap di bawah ambang tuntas.

Akhirnya tanpa disengaja, keluarlah ucapan yang memvonis siswa tersebut. Dikatakan bahwa anak tersebut bodoh, dan sang guru menyangsikan akan masa depannya. Mengerjakan soal-soal ulangan saja tidak mampu, apalagi nanti harus menghadapi ujian hidup.

Vonis yang dikatakan guru tadi, mungkin saja tidak bermaksud menyakiti siswa. Bisa jadi disebabkan keprihatinan sekaligus rasa gemes terhadap siswa tersebut. Maka keluarlah ucapan itu.

Namun jika dikaji lebih dalam, vonis tersebut rasanya kurang pas. Sebab dalam kehidupan sebenarnya, tidak semua disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah akan digunakan. Deretan rumus matematika, Fisika, ataupun Kimia, bisa jadi tidak akan mereka gunakan.

Demikian pula dengan berbagai dalil, pendapat, maupun definis yang membuat bibir mereka keriting, bias juga tidak dibutuhkan. Justru skil atau kemampuan dan sikap perilaku yang akan menjadi modal utama dalam mengarungi belantara kehidupan yang demikian ganas dan liar.

Jangan bayangkan seorang anak menggunakan berbagai rumus, dan definisi yang tertanam di benak mereka akan mampu mengurai masalah kehidupan. Rumus dan definisi yang ada di benak mereka, pada dasarnya hanya dipergunakan saat mereka di bangku sekolah saja. Selebihnya tidak. Kecuali mereka bekerja di bidang itu.

Lalu apa yang dibutuhkan siswa sebenarnya? Justru hal-hal yang berkaitan dengan psikomotor akan menjadi modal utama mereka. Seperti kemampuan mereka berbicara di depan umum, menanggapi sebuah permasalahan, terlibat dalam diskusi, dan sebagainya. Hal-hal itulah yang akan menjadi senjata mereka di belantara kehidupan nanti.

Memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan potensi diri, menjadi salah satu cara yang tepat. Pencapaian mereka yang rendah dalam ranah kognitif, jangan dijadikan pertimbangan utama untuk memvonis seorang anak.

Dalam sebuah kasus, seorang anak yang begitu 'bodoh' di dalam kelas, ternyata jauh berbeda saat berada di luar sekolah. Ketika dia bermain sepak bola di lapangan, gambaran apa yang ada di kelas berbeda sama sekali. Dia tampak begitu bergairah, energik, tampak pandangan mata cerah di permainan itu. Berarti memang di situ passion anak.

Demikian pula seorang anak yang menekuni bidang seni. Kepiawaiannya dalam bergerak maupun memainkan alat musik, jauh melebihi kemampuannya saat dia harus menyelesaikan rumus-rumus matematika.

Paradigma inilah yang seharusnya diusung oleh para guru saat ini. Membekali mereka dengan ilmu-ilmu praktis, akan menjadi langkah yang luar biasa. Karena dengan melakukan hal itu, berarti kita menyiapkan anak untuk mampu bersaing di belantara kehidupan yang begitu ketat dengan persaingan


Lembah Tidar, 21 Juni 2023

2 comments:

Ini Urusan Rasa, Enggak Ada Nilainya

  Duel seru timnas Indonesia vs Qatar di Piala Asia U-23 2024 (sumber: pssi.org) Dalam sebuah obrolan ringan saya sampaikan kalau sedang sed...